Nama               : Ganisa Kusumawardhani                                          Asisten: Indah Khayati           G34060868

NRP                : G34070063                                                                             Hayatul Fajri             G34062152

Kelompok       : I (satu)

Pendahuluan

Teknologi DNA rekombinan merupakan suatu teknologi yang dapat diterapkan sebagai pendekatan dalam mengatasi masalah mengenai pemurnian protein dan materi lainnya dari suatu organisme dalam jumlah besar. Salah satu teknik yang digunakan dalam teknologi DNA rekombinan adalah pemotongan DNA dengan manipulasi. Teknik manipulasi DNA melibatkan beberapa enzim, diantaranya DNA polimerase, ligase, enzim yang memodifikasi ujung akhir nukleotida dan nuklease. Nuklease merupakan enzim yang memotong molekul DNA dengan memutuskan ikatan fosfodiester antara nukleotida satu dengan nukleotida berikutnya. Jenis nuklease ada dua yaitu eksonuklease dan endonuklease. Endonuklease merupakan nuklease yang memotong bagian internal DNA tepat pada ikatan fosfodiester. Hasil pemotongan molekul DNA oleh enzim restriksi endonuklease tepat pada urutan tertentu dan menghasilkan sekuens yang double-stranded, dengan demikian sekuens yang akan dipotong dapat diprediksi urutan basa nitrogennya (Muladno 2002).

Pemotongan DNA dengan enzim restriksi menghasilkan dua jenis ujung potongan, yaitu ujung rata (sticky end) dan ujung tidak rata (blunt end). Ujung blunt menghasilkan fragmen yang double-stranded, sedangkan ujung sticky atau cohesive menunjukkan enzim restriksi endonuklease pada posisi yang berbeda dari dua untai DNA yang komplementer. Beberapa pemotong ujung sticky menghasilkan ujung 5’ atau ujung 3’ yang menggantung.Fragmen DNA yang dipotong dengan enzim restriksi endonuklease dapat ditentukan berapa besar ukurannya dengan menggunakan teknik elektroforesis gel agarosa (Jusuf 2001).

Tujuan

Mengetahui dan melakukan pemotongan DNA dengan enzim restriksi.

3
2

Hasil Pengamatan

Keterangan:

1. Marker 1 kb

2. Plasmid pGEM-T Easy

3. DNA genom

4. Pita Plasmid (kelompok 1)

4
1

Pembahasan

Teknologi DNA rekombinan memanfaatkan pemotongan dan penyambungan DNA. Teknik ini berkembang setelah ditemukan suatu enzim endonuklease yang dapat memotong DNA pada posisi dengan runtunan basa tertentu, sehingga disebut sebagai restriction endonuclease atau restriction enzyme atau diterjemahkan sebagai enzim endonuklease restriksi. Selain itu dikenal juga istilah ruas restriksi, yaitu ruas-ruas DNA tempat pemotongan oleh enzim (Jusuf 2001).

Enzim restriksi mampu memotong DNA pada situs pengenal dengan sekuensi DNA yang sangat spesifik (recognition site). Dengan demikian enzim ini mampu memproses DNA menjadi potongan-potongan yang lebih pendek asal DNA tersebut memiliki situs pengenal untuk enzim restriksi tertentu. Pada umumnya situs pengenalan enzim restriksi terdiri atas empat atau enam basa, selain itu ensim restriksi yang berbeda akan memiliki situs pengenalan yang berbeda juga. Akan tetapi, terdapat beberapa beberapa enzim yang diisolasi dari sumber yang berbeda memiliki situs pengenalan yang sama. Enzim-enzim seperti ini disebut isoschizomer, contohnya adalah enzim MboI dan Sau3AI. Walaupun situs pengenalannya sama, aktivitas pemotongannya mungkin akan berbeda. Situs pengenalan enzim restriksi ini adalah daerah simetri atau palindrom, yaitu situs atau sekuen pengenalan yang memiliki urutan basa yang sama pada kedua utas DNA bila dibaca dari arah kiri dan kanan (Saputra 2008)

Pemanfaatan teknik DNA rekombinan dalam usaha penyisipan suatu gen dari DNA donor ke plasmid bakteri membutuhkan enzim yang cocok untuk pemotongan DNA. Oleh karena itu, mula-mula harus diketahui terlebih dahulu ruas-ruas restriksi yang mengapit gen yang akan diisolasi. Selain itu, setiap enzim restriksi bersikap selektif sehingga akan dikenali oleh nama dan runtunan basa ruas restriksinya. Enzim yang digunakan pada praktikum ini adalah enzim EcoRI. Enzim ini hanya mengenali urutan (sekuen) 5′-G’AATCC-3′.

Plasmid yang digunakan pada praktikum ini adalah pGEM-T Easy yang berasal dari bakteri Escherichia coli. Vektor ini berukuran 3015 bp (base pair) dan memiliki poly A/T (AAAAAAAA/TTTTTTTT), sehingga bisa langsung digunakan untuk kloning (ligasi) produk PCR secara langsung (setelah purifikasi). Enzim restriksi bisa dilihat di bagian kanan gambar. Vektor ini memiliki ketahanan terhadap antibiotik Amphicillin, dan dilengkapi dengan kemampuan seleksi biru-putih (blue-white selection). Artinya, koloni hasil transformasi yang positif akan berwarna putih, sedangkan koloni yang salah (fake colony) akan berwarna biru (Gambar 1)

Gambar 1. Peta Vektor pGEM-T Easy

Berdasarkan hasil percobaan dapat terlihat pita plasmid yang berhasil terbentuk. Akan tetapi, hasil percobaan juga memperlihatkan kejanggalan dengan adanya DNA genom yang ikut ter-running dalam gel agarosa hasil elektroforesis. Hal ini mungkin disebabkan oleh kesalahan pada saat percobaan, yaitu proses pengkelatan yang tidak sempurna oleh EDTA sehingga permeabilitas membran sel turun terlalu rendah dan membrane yang terbentuk lebih besar. Oleh karena itu, DNA genom yang relatif berukuran besar ikut keluar dari sel.

Simpulan

Pemotongan DNA dengan enzim restriksi berhasil dilakukan, hal itu dapat terlihat dari pita plasmid yang berhasil terbentuk. Akan tetapi akibat kesalahan praktikum terdapat DNA genom yang ikut ter-running dalam gel agarosa hasil elektroforesis.

Daftar Pustaka

Jusuf M. 2001. Genetika I Struktur dan Ekspresi Gen. Bogor: Sagung Seto.

Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Bogor: Pustaka Wirausaha Muda.

Saputra A. 2008. Analisis ukuran kromosom dan pola restriksi Bacillus thuringiensis dengan elaktroforesis medan berpulsa [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Beauveria bassiana merupakan salah satu spesies jamur yang diberi nama oleh seorang entomologis Italia dan menemukan spesies tersebut sebagai fungi yang berfilamen serta menyebabkan penyakit muscardine pada ulat sutra di tahun 1835. Jenis fungi ini tersebar pada bagian tanaman dan tanah. Beauveria juga diisolasi dari bahan makanan, serangga yang terinfeksi, dan lingkungan udara dalam ruangan Beauveria bassiana (secara bentuknya dikenal juga sebagai Tritirachium shiotae) merupakan anamorf dari spesies fungi Cordyceps bassiana. Telemorph (bentuk reproduksi seksual) dari Beauveria bassiana ditemukan pada tahun 2001.

Beauveria bassiana  berbentuk mikroskopik dengan struktur somanya berupa hifa Hifanya bersifat hialin (tidak berwarna) dan bersekat. Sel konidiogenus pada hifa berbentuk botol dengan dasar pertumbuhan berbentuk filamen zigzag pada ujungnya. Secara lateral dari filament tersebut, konidia diproduksi dari setiap titik ikatan. Konidia (diameter 2,4 milimikron) bersifat hialin, bersel tunggal, dan berglobula. Sel konidiogen membentuk kelompok yang padat. Kelompok tersebut muncul sebagai bola serbuk kecil di sekitar hifa ketika diamati melalui mikroskop.

Beauveria bassiana  melakukan reproduksi aseksual dengan pembentukan konidia. Pada B. bassiana, spora diproduksi secara simpodial. Sebuah spora diproduksi pada ujung sel induk dan tumbuh di bawahnya. Titik tumbuh yang baru, berawal pada bawah spora induk yang kemudian tumbuh melampaui spora induk tersebut. Spora yang kedua diproduksi pada tempat yang lebih atas lagi dan terus berlanjut seperti itu . Setiap kali suatu spora diproduksi, ujung hifa dipergunakan dan terbentuklah titik tumbuh baru. Suksesi seperti ini diproduksi dengan spora yang lebih muda berada di ujung (contohnya, suksesi akropetal) dan kepala spora menjadi semakin memanjang dan memanjang lagi. Ketika seluruh spora dihilangkan, tempat bergantungnya spora dari sel konidiogen memiliki bentuk yang zig-zag.

Beauveria bassiana dapat menyebabkan penyakit pada berbagai jenis serangga dengan berlaku sebagai parasit, sehingga jenis fungi ini digolongkan sebagai fungi entomopatogenik. Penyakit yang disebabkan oleh fungi tersebut disebut juga sebagai penyakit muscardine putih. Ketika spora dari fungi bersinggungan dengan tubuh serangga inang, fungi tersebut bergerminasi, memasuki tubuh, dan tumbuh di dalamnya yang kemudian akhirnya membunuh serangga tersebut. Setelah itu muncul gumpalan putih di atas cadaver dan memproduksi spora baru. Sebagian besar serangga yang hidup di tanah memiliki kemampuan pertahanan alami melawan sifat patogen dari fungi tersebut, namun sebagian yang lainnya dapat terpengaruh sifat patogen fungi tersebut.

Walaupun hidup sebagai parasit pada serangga, B.bassiana memiliki nilai ekonomi yang tinggi, karena dapat digunakan sebagai insektisida biologis (biopestisida) untuk mengendalikan sejumlah hama seperti, termites, whitefly, berbagai jenis kumbang, dan juga digunakan dalam penelitian sebagai pengendali nyamuk penyebar malaria. Selain itu, karena peranannya sebagai biopestisida, maka penggunaan jamur ini tidak menyebabkan kerusakan lingkungan dan memiliki beberapa keunggulan yaitu, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian dalam tanah maupun pada aliran air alami, bersifat selektif terhadap serangga sasaran, dan juga mudah diproduksi dengan  teknik sederhana.

Sumber :

http://www.uoguelph.ca/~gbarron/MISCELLANEOUS/nov01.htm

http://www.doctorfungus.org/thefungi/beauveria.htm

http://www.absoluteastronomy.com/topics/Beauveria_bassiana

http://fungi-vol.blogspot.com/2008/01/beauveria-bassiana.html.

Nama              :Ganisa Kusumawardhani

NRP                :G34070063

Judul Tugas    :Ekologi dan Peranan Crustacea   : Daphnia

Filum               : Arthropoda

Kelas               : Crustacea

Sub Klas          : Branchiopoda

Divisi               : Oligobranchiopoda

Ordo                : Cladocera

Famili              : Daphnidae

Genus                      : Daphnia

Spesies           : Daphnia magna

Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami kolam-kolam, sawah dan perairan umum (danau) yang banyak mengandung bahan organik. Sebagai organisme air, Daphnia dapat hidup di perairan yang berkualitas baik. Beberapa faktor ekologi perairan yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan Daphnia antara lain kesadahan, suhu, oksigen terlarut dan pH. Daphnia memiliki bentuk tubuh yang lonjong dan segmen badan tidak terlihat. Tubuhnya ditutupi oleh cangkang dari kutikula yang mengandung kitin yang transparan. Daphnia melakukan reproduksi dengan cara parthenogenesis. Pada Daphnia yang baru menetas harus melakukan pergantian kulit (molting) beberapa kali sebelum tumbuh menjadi dewasa sekitar satu pekan setelah menetas . Siklus hidup Daphnia yaitu telur, anak , remaja dan dewasa.

Daphnia merupakan jenis zooplankton yang mudah dibudidayakan. Daphnia sp. sebagai sumber pakan alami memiliki beberapa keuntungan, yaitu kandungan nutrisinya tinggi, berukuran kecil yang sesuai dengan ukuran mulut larva, pergerakannya lambat, sehingga mudah ditangkap oleh larva ikan, dan tingkat pencemaran terhadap air kultur lebih rendah apabila dibandingkan dengan penggunaan pakan buatan. Dalam bidang pertanian Daphnia biasanya hidup dalam populasi persawahan dan dapat bermanfaat sebagai penghancur dan memindahkan bahan organik serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber kitin. Selain itu Daphnia juga dapat digunakan sebagai indikator dari perubahan serta pencemaran lingkungan.

Sumber :http://www.scribd.com/doc/12883234/d020201

https://eapbiofield.wikispaces.com/file/view/Daphnia_DGC.png

Laporan Praktikum Kimia Analitik                 Nama               : Ganisa Kusumawardhani

NRP                : G34070063

Kelompok       : A

Hari/tanggal    : Senin/ 03 Mei 2010

Waktu             : 09.00-12.00

Asisten            : Budi Riza

PJP                  : Zulhan Arif S.si.

ELEKTROFORESIS KERTAS

Prinsip Percobaan

Elektroforesis merupakan suatu cara analisis kimia yang didasarkan pada pergerakan molekul-molekul bermuatan di medan listrik. Kecepatan pergerakan partikel pada medan listrik dipengaruhi oleh muatan, bentuk, dan ukuran partikel, serta media dan arus listrik yang digunakan. Apabila berada dalam suatu medan listrik, pertikel yang bermuatan positif akan bermigrasi ke elektroda negatif dan sebaliknya (Pratiwi 2001). Prinsip kerja elektroforesis hampir sama dengan proses pengendapan karena partikel-partikel sampel bergerak dibawah pengaruh medan eksternal (lingkungan). Laju perpindahan partikel ditentukan dengan rumus V=, dengan V adalah kecepatan partikel, E adalah kekuatan medan lisrik, q adalah muatan, dan F adalah koefisien gesekan. Partikel dengan bobot sama, maka kecepatannya akan ditentukan oleh muaan dan koefisien gesekan. Muatan yang lebih besar akan memiliki kecepatan yang lebih besar juga, sedangkan apabila bentuk partikel tersebut tidak beraturan maka nilai F akan semakin besar dan laju perpindahannya rendah (Sulaiman et al.2007).

Proses elektroforesis memerlukan media sebagai tempat bermigrasinya partike. Terdapat bermacam-macam media yang dapat digunakan bergantung pada tujuan dan bahan yang akan dianalisis. Kertas selulosa asetat merupakan salah satu media yang sering digunakan dalam analisis komponen dalam persenyawaan campuran pada beberapa pigmen daam tinta, indikator, dan zat warna. Apabila arus listrik dialirkan pada suatu media yang telah berisi partikel, maka komponen molekul-molekul tersebut akan mulai bermigrasi (Pratiwi 2001).

Tujuan Percobaan

Percobaan ini bertujuan menunjukkan bagaimana komponen dalam persenyawaan campuran dapat dipisahkan dengan cara elektroforesis, menunjukkan bahwa beberapa indikator dan pigmen pada tinta adalah molekul yang dapat terionisasi dan menunjukkan keuntungan elektroforesis menggunakan kertas selulosa asetat.

Alat dan Bahan

Alat-alat yang dipakai adalah alat elektroforesis 150 V d.c  (1 jam). Bahan-bahan yang digunakan adalah tinta merah, tinta hitam, tinta biru, dan campuran ketiganya, indikator congo red, fenol red, brom phenol blue, campuran indikator red, campuran indikator hitam, zat warna sunset yellow, poncean, fluorecein, dan tartrazine serta campuran zat warna, kertas selulosa asetat, buffer ammonia, dan ammonium asetat atau buffer asam asetat dan ammonium asetat.

Prosedur Percobaan

Persiapan bahan. Bahan-bahan yang akan dilektroforesis disiapkan, yaitu tinta warna hitam, biru, merah, dan campuran ketiganya. Indikator yang digunakan adalah indikator congo red, fenol red, brom phenol blue, zat warna fluorecein, campuran indikator red, dan campuran indikator hitam. Zat warna yang digunakan sunset yellow, poncean, fluorecein, dan tartrazine serta campuran zat warna. Larutan buffer juga disiapkan dengan mencampurkan volume yang sama antara 0.1 M amonia dengan 0.04 amonium asetat atau dibuat dari jumlah volume yang sama antara asam asetat 0.1 M dan amonium asetat 0.04 M.

Pemisahan pigmen tinta, zat warna, dan indikator. Kertas elektroforesis atau kertas selulosa asetat dipotong dengan ukuran 20 x 3 cm. Kertas diberi garis sebagai tanda garis start. Spot dibuat dengan baik. Kertas kemudian dimasukkan kedalam larutan buffer dan ditempatkan kedalam elektroforesis, di running dengan potensial 150 V selama satu jam. Pemisahan dan warna yang teramati dicatat. Setelah satu jam, arus dimatikan dan kertas diangkat dari alat tersebut. bukti kertas hasil pemisahan disimpan atau difoto untuk dokumentasi.

Hasil Pengamatan

Tabel 1 Hasil pengamatan elektroforesis.

Jenis Jenis Sampel Muatan Jarak (cm)
Pigmen tinta Hitam + 6
Biru + 4
Merah + 2,5
Campuran tinta + 6
Indikator Congo red + 1
Phenol red + 3
Brom phenol blue + 3
Campuran indikator red + 2,3
Campuran indikator hitam + 1,7
Zat warna Sunset yellow + 4,5
Poncean + 2,9
Tartrazine + 2,8
Fluorecien + 1,9
Campuran zat warna + 5,5

Hitam                                                                         Pocean

Campuran tinta                                                          Fluorecien

Biru                                                                            Tartrazine

Campuran indikator merah                                         Phenol red

Campuran indikator hitam

Brom phenol blue                                                         Congo red

Tinta merah

Sunset yellow

Campuran zat warna

Gambar 1 Hasil pemisahan pigmen tinta, zat warna, dan indikator dengan elektroforesis.

Pembahasan

Pada dasarnya proses elektroforesis menunjukkan adanya efek dari listrik terhadap pergerakan partikel-partikel atau molekul-molekul yang bermuatan, dalam hal ini termasuk protein (Soedarmadji 1996). Molekul atau partikel tersebut akan bergerak (terjadi pemisahan) berdasarkan ukuran berat atau muatan listrik yang dikandungnya. Proses elektroforesis pada praktikum ini menggunakan kertas selulosa asetat sebagai media tempat bermigrasinya partikel. Kertas selulosa asetat harus dijaga agar tetap bersih, misalnya terbebas dari sentuhan tangan karena dapat meninggalkan lemak dan mengganggu aliran listriknya. Selain kertas selulosa asetat, media lain yang digunakan adalah larutan bufer.  Larutan bufer yang  berfungsi sebagai jembatan konduksi antara dua elektroda sehingga memungkinkan terjadinya aliran listrik. Selain itu bufer dapat berperan sebagai penstabil medium pendukung dan dapat mempengaruhi kecepatan gerak senyawa karena ion sebagai pembawa protein yang bermuatan. Kekuatan ion yang tinggi dalam bufer akan meningkatkan panas sehingga aliran listrik menjadi maksimal. Hal ini dapat mempercepat gerakan molekul protein. Kekuatan ion rendah dalam bufer akan menurunkan panas sehingga aliran listrik akan sangat minimal dan migrasi molekul protein sangat lambat (Soedarmadji 1996).

Analisis elektroforesis kertas menggunakan pigmen tinta, indikator, dan zat warna agar pemisahan zat warna dapat diamati dengan jelas. Berikut struktur kimia dari masing-masing sampel:

www.chemicalbook.com

Gambar 2. Struktur kimia fluoreceins, tartrazine, sunset yellow

www.chemicalbook.com

Gambar 3. Struktur kimia Pouncean

www.chemicalbook.com

Gambar 4. Struktur kimia fenol red, bromfenol biru, dan congo red

Molekul-molekul yang akan di running tersebut diteteskan pada masing-masing kertas selulosa asetat dengan jarak tertentu, kemudian ditempatkan pada alat elektroforesis dan ditambahkan larutan bufer selanjutnya di running. Sebelum di running beberapa molekul sudah terpisah terlebih dahulu, hal ini mungkin disebabkan tetesan molekul tersebut terlalu besar atau pekat atau penambahan larutan bufer terlalu banyak, sehingga larutan tersebut berdifusi dengan cepat ke kertas selulosa asetat dan menyebabkan pigmennya pun ikut berdifusi. Proses running harus dilakukan searah dengan serat kertas agar proses migrasinya berjalan dengan sempurna menuju ke suatu elektroda.

Berdasarkan hasil pengamatan, semua molekul yang dianalisis pada praktikum ini memiliki muatan positif yang ditandai oleh pergerakan ion menuju kutub negatif. Perbedaan molekul yang di running tersebut terletak dari pemisahan warna dan jarak pergerakannya dari titik awal.  Kertas 1 ditetesi tinta hitam, tinta biru, dan campuran tinta. Setelah dirunning dapat diketahui bahwa pemisahan warna pada tinta hitam yang teramati adalah biru tua dan jarak pergerakannya dari titik awal adalah 6 cm. Tinta biru menunjukkan pemisahan warna menjadi biru dengan jarak pergerakannya 4 cm dari titik awal, sedangkan campuran tinta menunjukkan pemisahan warna menjadi biru dan merah dan jarak pergerakan ion menuju kutub negatif sejauh 6 cm dari titik awal. Kertas 2 ditetesi congo red dan fenol red. Congo red menunjukkan pemisahan warna menjadi merah dan jarak pergerakan sebesar 1 cm dari titik awal, sedangkan fenol red menunjukkan pemisahan warna menjadi kekuningan dengan jarak pergerakan sebesar 3 cm dari titik awal. Brom phenol blue, campuran indikator red, dan campuran indikator diteteskan pada kertas 3. Brom phenol blue menunjukkan pemisahan warna menjadi biru tua dan memiliki jarak pergerakan ion dari titik awal sebesar 3 cm, campuran indikator red menunjukkan pemisahan warna menjadi oranye dan jarak pergerakan ion 2, cm dari titik awal, sedangkan indikator hitam menunjukkan pemisahan warna menjadi menjadi merah dan jarak pergerakan ion dari titik awal sebesar 1,7 cm. Pada kertas 4 ditetesi tinta merah, sunset yellow, dan campuran zat warna. Tinta merah menunjukkan pemisahan warna menjadi oranye kemerahan dan jarak pergerakan ion 6 cm dari titik awal, sunset yellow menunjukkan pemisahan warna menjadi kuning dan jarak pergerakan ion dari titik awal adalah 4,5 cm, sedangkan campuran zat warna menunjukkan pemisahan warna menjadi oranye kemerahan dengan jarak pergerakan ion dari titik awal adalah 5,5 cm. Zat warna lainnya, yaitu poncean, fluorecein, dan tartrazine diteteskan pada kertas 5. Poncean menunjukkan pemisahan warna menjadi merah muda dan jarak pergerakan ion dari titik awal 2,9 cm, fluorecein menunjukkan pemisahan warna menjadi kuning dan jarak pergerakan ion adri titik awal sebesar 1,9 cm, sedangkan tartrazine menunjukkan pemisahan warna menjadi kuning-oranye dan jarak pergerakan ion dari titik awal 2,8 cm.

Terdapat beberapa kesalahan yang terjadi pada metode elektroforesis kertas ini. Pembuatan spot sangat mempengaruhi hasil elektoforesis karena akan mengganggu pemisahan zona-zona. Spot yang terlalu besar akan menyebabkan hasil running menjadi tidak beraturan, sedangkan ukuran spot terlalu kecil makan hasil running akan sulit diamati. Proses running elektroforesis memerlukan medium untuk menghantarkan listrik. Medium yang digunakan adalah bufer. Bufer akan membasahi kertas dan menyebabkan kertas dapat menghantarkan listrik selama proses running. Spot bergerak dengan arah menuju kutub positif atau negatif. Selain itu, pada saat proses pencelupan kertas ke bufer elektroforesis harus dilakukan secara bersamaan, jika kedua ujung tidak bersamaan tercelup ke bufer maka hasil running akan cenderung bergerak menjauhi kertas yang terbasahi oleh bufer lebih banyak. Proses pemberian arus listrik yang tidak konstan juga akan membuat hasil kurang valid. Selain itu, kecepatan gerakan molekul juga berbanding lurus dengan besarnya voltase yang digunakan.

Simpulan

Molekul-molekul yang bermuatan listrik akan bergerak dan terpisah melalui proses elektroforesis yang menggunakan media kertas selulosa asetat dan larutan bufer. Pergerakan ion pada kertas selulosa menuju kutub yang sesuai dengan muatan yang dikandungnya. Selain itu, pada elektroforesis kertas ini terjadi pemisahan warna dari larutan indikator, zat warna, dan tinta sehingga diketahui warna penyusun dan muatan dari masing-masing molekul. Salah satu keuntungan penggunaan kertas selulosa asetat, yaitu pemisahan spot yang lebih kecil dan terkonsentrasi sehingga lebih mudah dideteksi.

Daftar Pustaka

[Anonim]. 2009. Struktur kimia indikator dan zat warna[terhubung berkala] http://www.chemicalbook.com[08 Mei 2010].

Pratiwi R. 2001. Mengenal metode elektroforesis. Oseana 27: 124

Soedarmadji. 1996. Teknik Analisis Biokimiawi. Ed-1. Yogyakarta: Liberty.

Sulaiman, Hardi A, Kundari NA. 2007. Pemisahan dan karakterisasi spesi senyawa kompleks Ytrium-90 dan Stronsium-90 dengan elektroforesis kertas. JFN 1(2): 93-104.